Diam Tak Lagi Emas, Lantas Apa Donk?

Diam itu emas, pepatah yang sudah tak asing di telinga kita. Belakangan ini saya berpikir ulang mengenai makna dari pepatah tersebut. Di era seperti sekarang apa benar berdiam saja itu emas padahal kamu memiliki plaform besar, ayo speak up.
Kegaduhan itu berawal ketika salah satu influencers kena semprot netizen budiman. Netizen yang maha benar menganggap bahwa seorang influencers dengan followers besar minimal 50k harus menyumbangkan suaranya untuk isu sosial seperti isu rasisme di Amerika Serikat atau di negeri sendiri. Jangan jadi akun yang dipakai buat endorses saja.  
Sedikit berpikir kita bakal setuju, bahwa memang seharusnya influencers angkat suara guna menggerakan massa yang lebih besar. Sehingga isu tersebut lebih masif dan diketahui berbagai kalangan untuk menggugah empati dan kesadaran bermasyarakat. Hingga akhirnya dapat mempengaruhi kebijakan.   
Namun banyak orang yang belum tahu bahwa seorang influencers itu bekerja sesuai dengan niche atau ceruk masing-masing. Misalkan seorang influencers kecantikan akan terasa aneh dan janggal ketika dia masuk ke ranah politik. Selain janggal tentunya mereka tidak menguasai bidang tersebut malah mungkin timbul kesan sok tahu dan berujung blunder. 
Melihat ke belakang tentu kita masih ingat kejadian yang menimpa influencers sekaliber Karin Novilda atau lebih dikenal Awkarin. Saat itu postingan dari Awkarin yang ikutan demo malah dianggap sebagai caper dan so peduli dan sebagainya. Padahal apa yang dilakukan Awkarin adalah hal yang wajar sebagaimana para mahasiswa yang turun ke jalanan untuk mengamalkan demokrasi. 
Lain influencers lain cerita juga. Ini kisah dari anak Bali, yakni Bli Jrx. Kita mungkin jadi sebagian golongan yang jengah dan jenuh dengan apa yang dilakukan oleh Jrx karena terlalu banyak speak up lintas isu mulai dari isu receh hingga soal konspirasi corona akibat ulah elit global. Apa yang dilakukan malah lebih banyak mengundang polemik daripada solusi. Kendati begitu itu adalah hak Jrx yang harus dihormati kalau tidak nanti Bli ajak kamu adu jotos.

Baca juga: Nabung Itu Privilese, Apalagi Kalau Masuk Generasi Sandwich

Terakhir Dinda Safay dengan segala inkopetensinya memaksakan diri untuk berbicara mengenai Corona. Alhasil Dinda malah salah ucap, sehingga berujung di meja podcast mas Dedi untuk sulap, minta maaf dan klarifikasi mengatasnamakan pribadi yang introvert. 
Diluar soal niche, kita harus memahami betul bahwa berbicara sesuai dengan kapasitas ilmu pengetahuan dan wawasan kita adalah hal yang penting entah itu bagi seorang influencer maupun orang biasa yang followernya stagnan.  
Saya teringat percakapan di whatsapp grup dengan seorang kawan yang tengah menyelesaikan study S2 di Jerman. Dia bercerita bahwa ketika masa-masa awal virus Covid-19 ditemukan, di sana hanya orang-orang dari kalangan berlatar kesehatan yang berani berbicara mengenai virus tersebut. 
Mereka yang memiliki latar di luar bidang kesehatan memilih untuk diam sambil menunggu pernyataan dari orang memang memiliki kapasitas untuk menjelaskan hal tersebut. Tentu hal ini akan meminimalir simpang siur informasi dan hoax. Pasalnya setiap orang menempati posisi masing-masing sesuai dengan porsinya. Dan paling penting adalah datangnya informasi dari sumber kredibel dan terpercaya. 
Namun ini berbeda dengan keadaan sosial di masyarakat kita, di mana ada ego untuk menjadi yang paling terdepan dan paling lantang dalam menyuarakan hal-hal tertentu, terutama isu-isu yang tengah panas dan diperbicangkan. Masalah benar atau salah bisa diselesaikan di waktu yang nanti dengan label klarifikasi.
Dalam ruang lingkup paling kecil seperti keluarga, kita dengan mudah menemukan praktek ini. Semisal dalam whatsapp grup hampir selalu ada salah satu anggota keluarga yang merasa paling tahu dengan membagikan segala informasi terkini dan berbicara lebih banyak. Hingga akhirnya anggota yang lain terutama mereka yang lebih muda merasa segan untuk membantahnya. 
Parahnya lagi praktek ini semakin merajela seiring dengan mudahnya membuat dan menyalurkan informasi melalui berbagai media di internet. Karena di era sekarang setiap orang memiliki kemampuan untuk mengolah informasi dan membagikannya dengan satu telunjuk. 
Keinginan untuk selalu bersuara secara tidak sadar telah menelan kemampuan kita untuk mendengar. Padahal Tuhan sudah memberikan sepasang telinga dan satu mulut agar, kita lebih banyak mendengar. Namun kita mulai mengikarinya. Sungguh terlalu.  
Memilih untuk diam di sosial media atau forum lain terhadap satu isu sosial tidak semerta-merta kita masuk golongan ignorant. Pasalnya setiap individu memiliki konsennya masing-masing terhadap isu sosial yang hendak ia bela. Berani diam untuk hal yang tak dikuasai lebih bijak daripada harus memaksakan berbicara di luar nalarnya. 
Mungkin saja masyarakat Indonesia sering lupa bahwa demokrasi itu kebebasan berpendapat bukan memaksa orang untuk memiliki pendapat yang sama. Karena kalau ada paksaan sama saja dengan otoriter. Sehingga memilih diam adalah salah satu bentuk dari berdemokrasi yang harus dihormati oleh seluruh lapisan masyarakat. Tak peduli dengan jumlah followermu. 
Mungkin saja kini diam itu bukan lagi emas tapi sebuah saham yang bisa meningkat nilai jualnya. Tergantung permintaan masyarakat.  
Photo by Kristina Flour on Unsplah
  
Share your love
Rulfhi Alimudin
Rulfhi Alimudin

Pekerja teks komersial dan penggambar rumah. Berminat sejarah, sastra, sepakbola dan properti.

Articles: 164

No comments yet

Leave a Reply