3 Penelitian Psikologi Tentang Manfaat Kopi yang Menakjubkan

Selain diminum, kopi telah lama jadi bahan penelitian psikologi, dan ditemukan memiliki beberapa efek yang kuat.

Penelitian sebagian besar berfokus pada bagaimana minuman ini memengaruhi kita secara fisik, termasuk implikasinya terhadap kanker, penyakit kardiovaskular, dan kesehatan pada umumnya. 

Namun kopi juga telah diteliti juga dalam disiplin psikologi. Nah, berikut beberapa temuan ilmiah penelitian psikologi seputar kopi, seperti dikutip dari Psychology Today:

1. Penelitian Psikologi Membuktikan Bahwa Kopi Bikin Kita Fokus Pada Hal Positif

ashley ladies code coffee shop penelitian psikologi kopi

Kafein dikenal karena kemampuannya yang menyentak, tetapi bahkan dosis kecil dapat meningkatkan sikap positif.

Kafein meningkatkan aktivitas di sistem saraf pusat, dan dosis normal dapat meningkatkan kinerja pada tugas perilaku dan kognitif sederhana.

Berdasarkan temuan ini, para peneliti menemukan bahwa ketika orang mengonsumsi 200 miligram kafein (setara dengan dua hingga tiga cangkir kopi) 30 menit sebelum melakukan tugas verbal, benar-benar meningkatkan pengenalan kata-kata dengan konotasi positif. 

Para peneliti berpendapat bahwa ini mungkin karena kafein membangkitkan neurotransmitter dopamin (yang terkait dengan pusat kesenangan otak) di daerah otak yang didominasi bahasa.

2. Kopi Panas Membuat Kita Makin Peduli dengan Orang Lain

Apakah ada hubungan antara kehangatan fisik dan interpersonal? Teori dan penelitian menunjukkan bahwa memang ada hubungannya. 

Attachment theory menggarisbawahi peran penting dari kontak fisik yang hangat dengan pengasuh di tahun-tahun awal seseorang dan pengaruhnya pada fungsi hubungan yang sehat di masa dewasa.

Penelitian telah menemukan bahwa bagian otak yang disebut insula terlibat dalam pemrosesan kedua fenomena ini. Berdasarkan penelitian ini, para peneliti menguji apakah pengalaman kehangatan fisik versus dingin akan meningkatkan perasaan kehangatan interpersonal. 

Jadi mereka merancang sebuah eksperimen ketika para peserta memasuki lift dengan konfederasi penelitian, yang kebetulan sedang memegang buku teks dan secangkir kopi.

Saat dia naik lift dengan setiap peserta, dia meminta mereka untuk memegang cangkir kopinya sebentar (kadang panas, kadang es) sambil mencatat beberapa informasi. Tak lama setelah itu, peserta membaca deskripsi orang asing dan diminta untuk mengevaluasi kepribadian mereka. 

Apa yang ditemukan peneliti? Mereka yang sebentar memegang secangkir kopi panas, dan bukan es, menilai orang asing itu memiliki kepribadian yang “lebih hangat. Dalam artian, menjadi lebih baik dan lebih murah hati.

Penelitian psikologi ini sesuai dengan gagasan bahwa kehangatan berhubungan dengan pengalaman fisik dan emosional. 

Baca juga: Kopi Panas atau Cold Brew, Mana yang Lebih Baik?

3. Rasa Kopi Akan Berbeda Tergantung Warna Cangkirnya

Hebatnya, penelitian psikologi telah menemukan bahwa dalam hal kopi, warna cangkir dapat memengaruhi persepsi rasa.

Pertimbangkan sebuah penelitian ketika para peserta meminum café latte panas baik dari cangkir putih, biru, atau transparan (kaca). 

Peserta menilai “intensitas” rasa kopi lebih besar ketika diminum dari cangkir putih dibandingkan dengan cangkir transparan, dan menjadi “kurang manis” di cangkir putih dibandingkan dengan cangkir transparan dan biru.

Para peneliti berpendapat bahwa kontras warna antara cangkir dan kopi mungkin telah mempengaruhi intensitas dan rasa manis kopi yang dirasakan.

Lebih khusus lagi, minum kopi dari cangkir putih mungkin telah memengaruhi persepsi orang terhadap warna cokelat kopi dan selanjutnya mungkin memengaruhi intensitas dan rasa manis yang dirasakan dari minuman tersebut. 

Share your love
Arif Abdurahman
Arif Abdurahman

Pekerja teks komersial asal Bandung, yang juga mengulik desain visual dan videografi. Pop culture nerd dan otaku yang punya minat pada psikologi, sastra, dan sejarah.

Articles: 266

Tinggalkan Balasan