Alun-Alun Bandung Darurat Keamanan, Tanggung Jawab Siapa?

Hingga saat ini, Bandung masih menjadi salah satu kota favorit untuk berwisata. Terutama di kalangan wisatawan domestik. Pasalnya wisata di Bandung tergolong lengkap mulai dari fashion, kuliner, spot instagrameble, sejarah hingga alam. Hanya minus ga punya pantai dan laut.  

Setahu saya, sejumlah titik di Kota Bandung pun dikenal sebagai destinasi para wisatawan domestik. Salah satunya adalah Alun-alun Bandung. Saya punya cerita dari seorang kawan yang kebetulan orang Purwekerto, Jawa Tengah. Ketika berkunjung ke Bandung, dia menanyakan di mana letak Alun-alun Bandung, dan ingin mengunjunginya. 

Hal ini saya kira wajar, sejak zaman penjajahan Alun-alun di kota-kota di Pulau Jawa dibangun untuk dijadikan pusat keramaian. Segala aktivitas seperti main bola, belanja, cari gebetan bisa dilakukan di Alun-alun. Maka tak heran bilamana hingga sekarang alun-alun menjadi tempat favorit orang-orang berkumpul terutama ketika akhir pekan.

Baca Juga: 4 Kuliner Malam Kota Bandung Wajib Dicicipi

Di sekitar kawasan Alun-alun Bandung pun terdapat banyak tempat rekreasi seperti dekat dengan pusat perbelanjaan, kawasan cagar budaya, jalan bersejarah bernama Braga, kedai kopi legendaris Kopi Purnama, atraksi cosplay setan dan banyak lagi.

Namun sayang kiwari Alun-alun Bandung sedang mendapatkan sorotan negatif. Hal ini tidak terlepas dari rentetan kejadian tak mengenakan yang menimpa para wisatawan domestik ketika berada di sekitar Alun-alun Bandung. 

Belum lama ini saya mendengar kabar bahwa telah terjadi pemerasaan berlabel jasa tato kontemporer. Oknum jasa kontemporer semula menawarkan tato dengan harga Rp3.000 per cm kepada seorang pelancong. Merasa tertarik, korban mentato lengannya sampai dengan selesai. Akan tetapi sungguh mengejutkan, harga tato yang telah jadi itu dibanderol sangat mahal yakni Rp1 juta.  

Baca Juga: Damri Bandung Gulung Tikar, Pemerintah Daerah Mau Diam Saja?

Sebelumnya ada juga insiden jual paksa kopi kemasan. Seorang remaja diminta untuk berpose sambil memegang botol kopi. Usai sesi foto, korban diminta membayar uang sebesar Rp25 ribu sebagai imbalan sesi foto. Korban yang masih di bangku sekolah menengah pertama (SMP) merasa takut dan terintimidasi akhirnya membayar kopi tersebut. 

Tentu dua kejadian ini mungkin sedikit dari kejadian tak mengenakan di Alun-alun Bandung yang kebetulan viral di media sosial. Sebagai warga Bandung, yang telah cukup akrab dengan kawasan alun-alun, saya selalu waspada penuh terutama ketika diminta melakukan sesuatu oleh orang tak kenal di sana. Lebih baik menghindar tak usah beramah tamah.

alun alun bandung
Foto: Ikhsan Assidiqie / Unsplash.

Saya pun sebenarnya cukup heran mengapa kejadian seperti ini seakan terus terulang. Padahal tak jauh dari Alun-alun Bandung, tepatnya di samping Masjid Raya Bandung terdapat kantor Satpol PP. Saya merasa keberadaan kantor Satpol PP di sekitar di sana tidak membuat kawasan di sana lebih tertib. Dari informasi yang saya baca, Satpol PP kerap berkilah bahwa pedagang liar di Alun-alun Bandung sering bermain kucing-kucingan sehingga sulit ditertibkan.

Baca Juga: Bandung Kota Kembang

Setelah kejadian seperti yang dijabarkan saya di atas biasanya korban diminta melapor ke polisi. Setelah melapor biasanya bakal ada patroli yang dilakukan aparat dalam beberapa waktu ke depan. Tentu ketika patroli, saya bisa jamin bahwa para oknum pedagang liar itu bakal sembunyi. Ketika patroli longgar mereka akan kembali muncul untuk mencari korban baru. 

Selanjutnya ketika insiden ini terulang. Tahapan bakal sama seperti yang saya telah disebutkan di atas. Diminta lapor, ada patroli terus seperti itu. Hingga mungkin pada titik tertentu masyarakat dibuat frustasi dan skeptis terhadap penegakan ketertiban yang dilakukan aparat berwenang. 

Menurut saya perkara ketertiban dan keamanan di Alun-alun Bandung harus ada sikap tegas dari aparat, entah itu Satpol PP, Polisi/TNI. Karena ketika masyarakat berinisiatif sendiri untuk menjebak oknum pegadang liar yang melakukan pemerasan artinya tugas dari aparat tidak berfungsi. 

Share your love
Rulfhi Alimudin
Rulfhi Alimudin

Pekerja teks komersial dan penggambar rumah. Berminat sejarah, sastra, sepakbola dan properti.

Articles: 164

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *