Kan Kohi: Kopi Kaleng yang Dicintai Orang Jepang

Kopi kaleng menawarkan kepraktisan bagi manusia yang terus melangkah, berlari dan terburu-buru.

Secangkir kopi di pagi hari bisa jadi ritual menyambut hari agar makin prima dan menyegarkan. Namun, karena memiliki gaya hidup yang sibuk, beberapa orang tak punya waktu untuk menyeduh sendiri, sebab bisa memakan waktu cukup lama.

Untungnya, banyak perusahaan telah merancang produk yang tidak hanya memungkinkan kita membawa kopi saat bepergian, tetapi juga membuatnya tetap segar dan bisa disimpan di dalam toko untuk waktu yang lama.

Produk tersebut adalah kopi kalengan, yang mungkin tak terlalu kita istimewakan hari ini karena sudah lazim.

Kisah di Balik Kopi Kaleng yang Berawal di Jepang

Sama seperti soda pop dan jus buah yang tersedia dalam kaleng, kopi kaleng tidak jauh berbeda.

Ini hanyalah kopi yang diseduh kemudia dikemas dalam kaleng, yang dapat kita buka dengan mudah dengan menarik tab logam.

Minuman ini dibuat dan dijual di seluruh dunia, tetapi asal produk ini berakar di Jepang. Sejak penemuan itu, Jepang sangat menyukainya, yang makin mengukuhkan popularitasnya yang luar biasa, keragaman, dan kehadirannya yang kuat di negara itu.

Di Jepang, kopi kalengan adalah bintang pertunjukannya. Dilafalkan “kan kohi”, ditulis sebagai “缶コーヒー”.

Tampaknya ini dipelopori oleh UCC Ueshima Coffee Co., karena perusahaan ini adalah yang pertama kali mengenal kaleng dan menjulukinya “kan kohi” dari istilah Inggris “can coffee” pada tahun 1969.

Produk UCC yang paling dikenal adalah kopi campur susu.

Perlu diperhatikan kalau gagasan bahwa UCC yang memelopori produk ini masih diperdebatkan, karena ada klaim bahwa merek yang disebut “Mira Coffee” memproduksi kopi dalam kaleng 4 tahun sebelumnya, pada tahun 1965, di Prefektur Shimane.

Meski begitu, Mira Coffee tidak bertahan lama dan jauh tergeser oleh UCC.

Kopi Kalengan yang Tersedia di Vending Machine Jepang

kopi kaleng vending machine kan kohi
Foto: Wikimedia Commons.

Karena kenyamanan, teknologi, dan elektronik adalah tiga hal yang menjadi spesialisasi Jepang, tidak heran jika mereka sangat bergantung pada vending machine atau mesin penjual otomatis untuk mendistribusikan dan membeli barang.

Ada mesin penjual otomatis untuk hampir semua hal di Jepang, mulai dari telur hingga payung, jadi membeli kopi kalengan tidak terlalu mengejutkan.

Meski kopi dalam kaleng adalah hal baru di akhir tahun 60-an, penjualan benar-benar mulai meningkat ketika kopi kaleng dijual di vending machine yang dipelopori oleh Pokka Coffee.

Ini terutama berkat Pokka Coffee yang punya kemampuan menjaga minuman pada suhu tertentu selama musim tertentu.

Disajikan Dingin atau Panas, Tergantung Musim

Kopi dalam kaleng diolah oleh mesin penjual otomatis ini tergantung pada musim apa.

Selama bulan-bulan yang lebih hangat di sekitar musim panas, yang biasanya berlangsung dari sekitar bulan Juni hingga Agustus, mesin penjual otomatis mengeluarkan es kopi kalengan.

Sebaliknya, jika ke vending machine dan membeli kopi dalam kaleng di tengah musim dingin, tentu saja kopi panas yang akan menghangatkan kita dari suhu dingin. Kecuali jika kamu seorang sadomasokis.

Baca juga: Mana yang Lebih Baik, Kopi Panas atau Cold Brew?

Kopi Kalengan di Jepang Hari Ini

Kopi kalengan telah berkembang pesat dan telah berubah sedikit dalam hal desain kaleng mereka.

Selama tahun 60-an dan 70-an, tata letaknya jauh lebih sederhana, dan sebagiannya, biasanya 2/3 bagian bawah, memiliki sedikit tonjolan yang nyaman untuk dipegang.

Saat ini, kemasan kopi kaleng mengambil banyak bentuk dan ukuran yang berbeda, umumnya berukuran sama dengan kaleng soda, dengan varietas panjang dan tebal.

Ini biasanya hadir dalam ons lebih sedikit daripada kopi kaleng Amerika.

Jutaan warga Jepang mengonsumsi kopi kaleng sebagai bagian dari rutinitas harian mereka, karena pekerjaan mereka dapat dimulai lebih pagi, dapat menjadi padat karya, dan menghabiskan sebagian besar hari dengan kerja-kerja khas pekerja pecinta kerja.

Dalam situasi ini, akan lebih mudah untuk pergi ke toko serba ada atau “kombini” (コンビニ) untuk membeli sekaleng kopi yang terjangkau ketimbang memesan minuman di Starbucks.

Kopi kaleng juga lebih cepat untuk diakses daripada meluangkan waktu untuk menyeduh secangkir kopi secara manual.

*

Referensi:

Share your love
Arif Abdurahman
Arif Abdurahman

Pekerja teks komersial asal Bandung, yang juga mengulik desain visual dan videografi. Pop culture nerd dan otaku yang punya minat pada psikologi, sastra, dan sejarah.

Articles: 266

Leave a Reply